Revolusi Teori Ekonomi Mikro dan Makro

Semakin berkembangnya zaman, semakin banyak pula teori-teori yang terdapat pada zaman dahulu kala menjadi usang. Tentunya bukan berarti hal tersebut tidak dapat diperbaharui serta direvolusi, berikut beberapa Revolusi Teori Ekonomi Mikro dan Makro :

Photo by Jonathan Borba: Via Pexels

Revolusi Teori Ekonomi Mikro

Persaingan Tidak Sempurna Piero Sraffa & Joan. V. Robinson

1. Pertumbuhan pemikiran Neoklasik menerima bermacam kritik yang dikemukakan tajam dari para pakar ekonomi sejarah, serta kelembagaan. Kritik itu tetap tidak sepakat dengan asumsi- asumsi yang digunakan oleh pemikir ekonomi klasik serta neo- klasik, Kritik itu menemukan kesempatan buat dikaji oleh pemikir Neoklasik, yang kesimpulannya melahirkan teori- teori persaingan tidak sempurna, semacam dikemukakan oleh Sraffa serta Robinson.

2. Analisis neoklasik yang dikemukakan Sraffa, kalau pada kurva bayaran rata- rata terdapat bagian yang menyusut, hingga tidak bisa jadi terjalin dalam realitas struktur pasar persaingan sempurna. Malah struktur dominasi banyak ditemui dalam realitasnya. Dengan demikian andaian- andaian yang digunakan dalam struktur pasar persaingan sempurna tidak realistik. Robinson menguatkan argumantasi sraffa baik dalam bermacam tulisannya, ataupun pada bukunya yang bertajuk The Economic of Imperfect Competation. Industri skalanya terus menjadi besar, dijumlahnya juga tidak banyak, sehingga mereka bisa pengaruhi jumlah penciptaan di pasar, serta sekalian menetapkan harga yang besar.

3. Dengan meningkatnya harga hendak menghasilkan laba maksimum. Oleh sebab itu hendak bisa mengundang saingan sendiri buat masuk ke pasar, sehingga tingkatan laba jadi wajar kembali. Untuk perusahaan- perusahaan yang sudah established, sudah berhasil serta sudah berdiri lama memiliki good- will terhadap langganan- langganannya, sehingga ialah rintangan untuk yang baru ataupun yang hendak merambah pasar. Di samping itu industri yang berhasil ini hendak senantiasa menghasilkan rintangan- rintangan masuk, semacam perbanyak penciptaan, merendahkan harga, pelayanan yang memuaskan, kredit serta sebagainya.

Persaingan Monopolistis serta Penyeimbang Industri Monopolitis

1. Pemikiran Chamberlin kerap terasing serta tidak riil tentang teori ekonomi, bukan sebab kesalahan metodenya, namun sebab asumsi- asumsi yang digunakan tidak cocok dengan realitas ekonomi yang terjalin. Chamberlin mengamati kalau keadaan buat persaingan sempurna telah paling tinggi, sehingga ia menyusun teori persaingan dominasi. 

Jika lebih dahulu terdapat 2 berbagai struktur pasar ialah persaingan sempurna serta dominasi murni, hingga Chamberlain memandang kalau kedua sruktur ditemui serempak dalam realitas, ialah persaingan terjalin, namun dengan struktur dominasi, pertanda- pertanda terbentuknya persaingan dominasi antara lain nampak dengan terdapatnya aktivitas iklan, korting harga, goodwill industri, pembayaran dengan kredit, serta peranan konsumen yang lemah dalam penentuan harga benda. Secara murah masih dicoba analisis dengan perlengkapan analisis marjinal.

2. Monopolistic competition( persaingan dominasi) terjalin sebab tiap produsen menciptakan produk yang nyaris sama, tiap- tiap produk memiliki identitas spesial, sifat- sifat tertentu, sehingga memunculkan preferensi pada konsumen. 

Tiap- tiap benda memiliki keunggulannya. Seperti itu yang ia dominasi, tidak terdapat pada orang lain. Namun sebab loyalitas konsumen terhadap merek benda, hingga ini juga memunculkan dominasi. Walaupun dalam pasar mereka melaksanakan persaingan, baik dalam perluasaan pasar dengan lewat bermacam aktivitas iklan, ataupun dalam perihal kebijaksanaan harga.

3. Penyeimbang industri tidak lagi dalam keadaan maksimal, sebab perusahaan- perusahaan itu sudah sanggup mengendalikan harga, serta pengeluaran- pengeluaran buat bayaran penjualan bertambah, sebaliknya ongkos senantiasa penciptaan per satuan bertambah. 

Perihal terakhir ini paling utama diakibatkan terbentuknya under capacity dalam penciptaan, sehingga tingkatan harga jadi mahal. Berikutnya under- capacity ini bisa dipakai selaku strategi buat rintangan masuk ke pasar industri.

4. Struktur pasar yang oligopoli, menyebabkan George Stigler menyusun teori tentang kurva permintaan yang patah( kinky demand curve). Perihal ini terjalin, antara lain diakibatkan oleh tingkatan harga yang normal. Harga yang normal ini bisa pula diakibatkan selera serta teknologi yang normal, kelemahan administrasi, aspek terbentuknya kolusif. 

Walaupun demikian, bila sesuatu industri dalam struktur oligopoli menaikkan harga, belum pasti hendak diiringi oleh saingannya, namun cenderung terjalin bilamana satu industri dalam oligopoli merendahkan harga hingga lawan- lawannya hendak menjajaki. Bukti- bukti yang ditemui belum menggunakan berlakunya teori ini. Namun, mungkin bermacam kelemahan masih belum bisa diatasi. 

Teori buat struktur oligopoli belum bisa digeneralisasikan, sebab tiap- tiap memiliki identitas khas tertentu, sehingga perilakunya sukar buat diprediksi. Perihal ini kembali ke perkara aspek personal serta impersonal. Dalam struktur oligopoli spesialnya, serta persaingan tidak sempurna biasanya kebijaksanaan harga cenderung bertabiat personal.

Photo by Andrea Piacquadio: Via Pexels

Dominasi, Oligopoli, serta Konsentrasi

1. Pembatasan struktur pasar dominasi murni sudah berlangsung semenjak masa ekonomi Klasik, namun struktur pasar oligopoli relatif baru. Realitas ekonomi sudah berganti sepanjang akhir abad ke- 19 hingga dengan 1930- an, sehingga lahir teori persaingan tidak sempurna, serta secara lebih spesial mencuat struktur pasar persaingan dominasi serta oligopoli. Dalam perihal tertentu, struktur pasar oligopoli bisa dikatakan selaku persaingan dominasi paling utama buat oligopoli yang berdiferensiasi.

2. Bermacam wujud struktut oligopoli sudah dibicarakan, antara lain oligopoli penuh, oligopoli parsial, oligopoli yang kolusi serta nonklusif, oligopoli terbuka, serta oligopoli tertutup serta oligopoli homogen serta berdiferensiasi, dan oligopoli pimpinan baik yang simetrik ataupun nonsimetrik.

3. Teori oligopoli sulit buat menggeneralisasikannya, sebab perilakunya sudah bertabiat personal, sehingga terdapat teori buat tipe- tipe tertentu oligopoli. Sikap harga pada oligopoli pimpinan pula bergantung apakah tipenya simetrik ataupun nonsimetrik. Jika simetrik hingga terjalin persaingan harga, namun jika nonsimetrik tingkatan harga pimpinan diiringi ataupun dijadikan pedoman untuk perusahaan- perusahaan yang relatif kecil.

4. Permasalahan yang jadi polemik dalam teori oligopoli merupakan terbentuknya indeterminasi, ialah tidak terdapatnya penyelesaian penyeimbang yang unique, sebab masuknya faktor- faktor nonekonomi serta tidak terdapatnya koordinasi baik langsung ataupun tidak langsung di antara perusahaan- perusahaan yang independen. 

Namun, jika di antara industri itu terjalin kolusi, hingga keadaan dominasi terjalin, serta sikap perusahaan- perusahaan tersebut terkoordinir baik langsung ataupun tidak langsung. Kolusi resmi ataupun tidak resmi, dalam usaha buat menanggulangi resiko ketidakpastian yang mendatangkan bermacam kerugian.

5. Ikatan antara struktur dengan sikap yang berhubungan dengan kinerja industri terus menjadi mantap digunakan dalam pembahasan- pembahasan oligopoli spesialnya, persaingan tidak sempurna biasanya, sebab sudah ditemuinya cara- cara pengukuran tingkatan konsentrasi. Dengan dimensi ini, bisa didetetapkan tidak cuma tingkatan ataupun derajat oligopoli, namun derajat dominasi dalam sesuatu beberapa barang ataupun jasa. Misalnya, terus menjadi besar konsentrasi, akibat terbentuknya penumpukan modal yang terus menjadi besar, serta di pihak lain terjalin perolehan

REVOLUSI TEORI EKONOMI MAKRO

Tekanan mental Ekonomi serta Relevansi Teori

1. Tekanan mental ekonomi yang terjalin pada tahun- tahun 1930- an sudah mendatangkan bencana untuk aktivitas ekonomi, yang mendatangkan pengangguran yang luar biasa. Pengangguran berarti yang tidak memiliki sumber pemasukan yang secara murah tidak memiliki energi beli. Apa yang dibuat tidak bisa diserap pasar, yang berdampak perusahaan- perusahaan( produsen) kurangi penciptaan, sehingga aktivitas ekonomi menyusut dunia sudah kelebihan penawaran sebab produksi tidak terbeli.

2. Para pakar ekonomi berupaya mencari sebab-musabab terbentuknya tekanan mental tersebut, serta berupaya buat menyelesaikannya. Bermacam teori ekonomi yang terdapat nyatanya tidak sanggup lagi buat menanggapi persoalan- persolan yang timbul, sehingga mendesak kekuatan buat mencari jalur ke luar. Nyatanya teori- teori klasik serta neoklasik memiliki kelemahan yang berarti, sehingga andaian- andian yang dipakainya tidak cocok lagi dengan ekonomi.

3. Dalam teori peluang kerja, teori lama itu tidak mengakui terdapatnya pengangguran terpaksa. Mereka tidak ingin menyudahi dengan terbentuknya penyusutan tingkatan upah, serta tidak bersedia bekerja dengan tingkatan upah yang rendah. 

Pengangguran yang terpaksa ini mengusik ulasan teori- teori yang terdapat. Bagi teori ini, bila pengangguran berlangsung, hingga pengusaha wajib mengurangi tingkatan upah, sehingga seluruh penganggur tertampung serta kondisi senantiasa dalam peluang kerja penuh (full employment). Namun terdapat kelompok- kelompok yang tidak bersedia bekerja dengan tingkatan upah yang relatif lebih rendah.

4. Dalam teori moneter klasik serta neoklasik terjalin pula dikotomi, sebab variabel- variabel riil dalam pasar benda tidak bisa dipengaruhi secara langsung oleh variabel moneter, sebab guna dana yang netral. Kaitan antarpasar duit, pasar tenaga kerja serta pasar benda kurang erat dalam ajaran neoklasik. Duit memiliki guna cuma selaku perlengkapan ubah, tidak selaku perlengkapan penyimpan nilai ataupun kekayaan, sehingga tiap akumulasi duit sekedar dibutuhkan buat transaksi.

5. Di samping perkara tersebut, terjalin pula perbandingan mengerti tentang peranan pemerintah dalam menanggulangi perkara tekanan mental ekonomi. Dalam perihal ini Keynes serta sebagian pakar yang lain sepakat pemerintah memakai pengeluaran buat pekerjaan universal sehingga permasalahan tekanan mental bisa diatasi. Tokoh yang populer mengajukan saran ini merupakan J. Meter. keynes yang berjasa dalam mengajukan teori- teori baru yang ialah revolusi dalam pertumbuhan teori ekonomi makro. Area ulasan sudah jadi lebih luas, lebih merata, tidak bisa cuma dengan analisis mikro.

Peluang Kerja dengan Intervensi Pemerintah

1. Inti teori ekonomi makro yang dikemukakan J. Meter. Keynes merupakan kecenderungan mengkonsumsi( dipihak lain berarti kecenderungan menabung), efisiensi kapital marjinal( MEC), serta preferensi likuiditas. Berikutnya, ketiga prinsip yang pokok ini dilengkapi dengan fungsi- fungsi permintaan, penawaran, serta guna penciptaan. Sikap orang menabung berbeda dengan sikap investor, oleh sebab itu bisa terjalin jumlah investor yang dibutuhkan tidak sama dengan jumlah tabungan yang ada, ataupun kebalikannya. Tingkatan investasi yang dicoba bergantung pada MEC, sebaliknya tabungan didetetapkan oleh besar rendahnya pemasukan.

2. Berikutnya, penawaran duit tidak cuma buat keperluan transaksi, pembelian benda ataupun jasa, namun pula buat keperluan spekulasi. Permintaan duit buat transaksi tidak terdapat kelainannya dengan yang ditemui pada pasar duit klasik, namun permintaan yang digunakan buat spekulasi ialah perihal yang baru sama sekali. Tetapi demikian, komponen yang baru ini sudah mendekatkan model ulasan ke dalam realitas ekonomi. 

Sebab guna duit bukan sekedar buat media- pertukaran, namun pula selaku penyimpan nilai. Dengan demikian, pada sesuatu waktu, pemakaian buat spekulasi bisa bertambah, serta kebutuhan duit buat transaksi bisa tersendat. Misalnya, bila tingkatan bunga turun, kecenderungan investasi diperkirakan bertambah, namun dengan komponen kedua itu, harga obligasi bisa naik serta memunculkan kelebihan penawaran. 

Variabel tabungan tidak dipengaruhi tingkatan bunga, namun oleh pemasukan, sebaliknya investasi yang menghasilkan peningkatan pemasukan. Bukan investasi yang bergantung pada pemasukan. Oleh sebab itu aktivitas ekonomi bisa mendatangkan resesi tekanan mental. Singkatnya, guna investasi itu tidak normal, sebaliknya guna tabungan relatif normal. Bisa terjalin investasi lebih kecil dari tabungan.

3. Pasar tenaga kerja dihadapkan dengan perkara terdapatnya pengangguran terpaksa yang tidak bisa dituntaskan secara otomatis. Meski tingkatan upah diturunkan, terdapat kelompok warga yang tidak bersedia menerima tingkatan upah sangat rendah. Buat menanggulangi ini( sebab tabungan tidak lumayan buat investasi), hingga permintaan melaksanakan investasi. Jika ini terjalin, hingga permintaan efisien bangkit serta kecenderungan mengkonsumsi kembali naik. Jadi aspek( C+I) ialah komponen permintaan efisien yang mendesak roda aktivitas ekonomi.

Photo by PhotoMIX Company: Via Pexels

Polemik Teori Moneter

1. Teori- teori ekonomi dari Keynes menemukan kritik yang membangun sehingga mendesak dialog yang sungguh- sungguh penelitian- penelitian buat menguji hipotetisnya, dan membuka mungkin lahirnya teori- teori baru. Serta penelitian- penelitian itu guna mengkonsumsi memiliki bermacam variabel. Teori moneter hadapi polemik, sebab Friedman membahas teori kuantitas yang klasik. Penelitian- penelitian yang lebih intensif dicoba dalam rangka mengadu teori mana yang relatif lebih cocok dengan pertumbuhan realitas ekonomi.

2. Efek- Keynes sudah berupaya buat memandang ikatan antara variabel harga dengan kebutuhan duit buat transaksi preferensi likuiditas, di satu pihak, serta keperluan, buat spekulasi di pihak lain, yang bisa mendesak tingkatan bunga turun sehingga volume investasi bisa bertambah, sebaliknya efek- Pigou bisa pula menarangkan kalau variabel kekayaan bisa pengaruhi mengkonsumsi. Jika efek- Keynes bisa pengaruhi pasar duit, sebaliknya efek- Pigou pengaruhi pasar benda. Dengan demikian mencuat sintetis antara pemikiran neoklasik serta Keynes.

3. Dalam pengembangan teori- teori mengkonsumsi, bermacam riset dicoba serta menciptakan sebagian variabel yang memiliki pengaruh pada mengkonsumsi sesuatu warga. Nyatanya, bukan cuma pemasukan mutlak saja yang mempengaruhi secara berarti pada mengkonsumsi, namun pula pemasukan relatif, pemasukan permanen, serta siklus kehidupan. Tetapi demikian, ketiga temuan ini menyangkut jangka panjang sebaliknya hipotetis pemasukan mutlak merupakan dengan acuan waktu jangka pendek.

4. Friedman melanjutkan penelitiannya ke bidang teori moneter serta memugar teori kuantitas duit, Freidman menyangka kalau duit merupakan kekayaan, bukan saja dalam penafsiran keuangan namun pula dalam makna yang luas. Permintaan hendak duit didetetapkan oleh tingkatan harga obligasi, kemampuan saham, inflasi, rasio kekayaan human wealth( kekayaan yang bertabiat manusiawi) serta kekayaan yang nonhuman, dan kekayaan dalam harga berlaku. Variabel terakhir ini ialah pemasukan demikian, Friedman memandang kalau modelnya kurang elastik terhadap variabel suku bunga, namun nyatanya bilangan k relatif normal daripada pengganda permintaan terhadap duit. Dalam perihal menyamakan kedua model itu( model Keynes serta Friedman), butuh diingat acuan waktu tiap- tiap.

Aliran Supplyside Economics

1. Teori Unlimited Supplies of Labour ialah teori tenaga kerja klasik yang disusun kembali oleh Arthur Lewis. Analisisnya tidak terlepas dari tradisi klasik. Tradisi klasik dalam perihal ini merupakan dalam menggapai perkembangan dengan penumpukan modal hendak mengganti distribusi pemasukan dalam jangka panjang( distribusi personal), namun ada jumlah tenaga kerja berlimpah dengan tingkatan upah subsisten. 

Sistem ekonomi ini semula ada di Eropa masa klasik namun zona subsisten mengecil, setelah itu kondisi itu ditemukan secara luas di negeri- negeri Asia. Zona kapitaslis yang modern memiliki tenaga kerja terampil, dengan tingkatan upah besar, produktivitas besar, sebaliknya di pihak lain tersebar luas zona subsisten dengan produktivitas yang sangat rendah, teknologi tradisional dengan tingkatan upah yang rendah. Pada zona subsisten terjalin kelebihan tenaga kerja. 

Tingkatan upah subsisten itu didetetapkan dengan kebutuhan minimum ataupun tingkatan produktivitas rata- rata pada zona pertanian.

2. Investasi yang dicoba di zona kapitalis secara universal tidak tingkatkan upah, tetapi lebih berarti dalam pembuatan laba serta laba ini sangat kecil yang diinvestasi kembali sebab penanam modal memiliki kepentingan di luar negara, hingga bisa terjalin ekspor modal. Ekspor modal pastinya kurangi pembuatan modal di dalam negara. 

Apalagi kebutuhan dalam negara sebagian berasal dari impor yang relatif mahal. Keuntungan komparatif bisa dipunyai negara ini, namun sebab terdapatnya perlindungan hingga persaingan bisa kalah dari negeri- negeri lain yang relatif memiliki pasar leluasa.

3. Tanda- tanda peristiwa ekonomi 1960- an kesimpulannya secara nyata ditemui pada tahun 1970- an, di mana ekonomi tidak bisa dikelola dari segi permintaan. 2 dekade tahun sehabis Perang Dunia ke- 2, pendekatan kebijaksanaan yang menekankan sisi permintaan juga berakhir. 

Bermacam aspek yang bertabiat struktural timbul yang tidak bisa jadi cuma dikelola secara makro lewat sisi permintaan. Baby- boom tahun 1950- an, krisis tenaga, regulasi ekonomi area hidup, serta perkara persediaan pangan ialah masalah- masalah yang tidak bisa terselesaikan dengan pengelola ekonomi permintaan. Oleh sebab itu, mencuat gagasan buat mengelola ekonomi dari sisi penawaran. 

Pengelolaan ini diatur dari sisi permintaan pemerintah dikurangi penyusutan pajak, baik pajak- pajak pemasukan, ataupun pajak industri serta pajak kredit investasi. Teorinya merupakan mengganti sikap dengan rangsangan. Dengan menyusutnya pajak, hingga pemasukan personal bertambah, return kekayaan bertambah, bunga turun serta arus investasi meningkat. 

Produktivitas baik, pemasukan naik, kecenderungan mengkonsumsi naik dengan keadaan ekonomi yang lebih efektif. Dengan ekonomi yang efektif, beberapa barang bisa diekspor, sebaliknya impor relatif mahal dalam perihal ini permintaan terhadap peningkatan upah tidak semacam pada pendekatan permintaan efisien sebab inflasi relatif rendah, serta tingkatan perkembangan relatif besar. Dengan demikian ekonomi bebas dari stagflasi meski demikian, bila permintaan, hingga kondisi kebalikannya bisa terjalin.

Photo by PhotoMIX Company: Via Pexels

Teori Perkembangan Ekonomi

1. Sebab persoalan- persoalan tekanan mental ekonomi 1930- an sudah teratasi, hingga timbul fenomena ekonomi yang lain di Amerika Serikat. Terdapat tanda- tanda kalau tingkatan perkembangan penduduk menyusut, tabungan lebih besar dari investasi, muncullah hipotesis ekonomi dalam kondisi stagnasi. Indikasi itu menunjukkan menyusutnya permintaan efisien kondisi itu berganti, sehabis Amerika Serikat merambah Perang Dunia ke- 2, di mana permintaan efisien bangkit kembali, sebab pengeluaran pemerintah buat membiayai perang serta industri senjata.

2. Harrod pada tahun 1939 sudah menyusun model perkembangan ekonomi yang bertolak dari prinsip- prinsip yang dipakai Keynes. Teorinya bersumber pada 3 variabel utama, ialah tingkatan perkembangan ekonomi didetetapkan oleh rasio tabungan dengan pemasukan serta rasio modal dengan tingkatan pertambahan penduduk, sebaliknya tingkatan investasi didetetapkan oleh harapan- harapan investor( pengusaha). 

Dengan demikian bisa terjalin ketidakstabilan dalam perkembangan. Maksudnya tingkatan perkembangan yang direncanakan tidak sama dengan tingkatan perkembangan yang aktual, yang menimbulkan terbentuknya kelebihan penciptaan ataupun kekurangan penciptaan.

3. Solow yang bertolak dari pemikiran ekonomi Neoklasik menyusun pula teori perkembangan ekonomi dengan memakai teori penciptaan yang menanggulangi kelemahan- kelemanah model Harrod- Domar. 

Disini juga ada 3 variabel utama, namun faktor ketidakstabilan itu sudah dihilangkan. Guna penciptaan dinyatakan dalam modal perkapita; pertambahan modal per kapita sama dengan jumlah tabungan per kapita dikurangi dengan jumlah perkembangan investasi per kapita. Output dibagi 2, ialah buat mengkonsumsi serta buat investasi. 

Dalam model ini terdapat 3 guna utama, ialah guna penciptaan, guna tabungan, serta guna investasi. Dengan demikian, tingkatan penyeimbang antara ketiga guna itu normal yang lagi tumbuh, mungkin terjalin perangkap- pertumbuhan, sebab tingkatan penumpukan modal yang kecil, apalagi tingkatan pertumbuhannya bisa lebih kecil dari tingkatan perkembangan penduduk.

Sumber Novel Sejarah Teori- teori Ekonomi Karya Disman 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url