Teori Budaya Organisasi

Pengertian Budaya Organisasi

Dalam kehidupan warga tiap hari tidak terlepas dari jalinan budaya yang diciptakan. Jalinan budaya terbentuk oleh warga yang bersangkutan, baik dalam keluarga, organisasi, bisnis ataupun bangsa. Budaya membedakan warga satu dengan yang lain dalam metode berhubungan serta berperan menuntaskan suatu pekerjaan. Budaya mengikat anggota kelompok warga menjadi satu kesatuan pemikiran yang menghasilkan keseragaman berperilaku ataupun berperan. Bersamaan dengan bergulirnya waktu, budaya tentu tercipta dalam organisasi serta bisa pula dialami khasiatnya dalam berikan donasi untuk daya guna organisasi secara totalitas.

Gambar oleh Albrecht Fietz dari Pixabay 

 Berikut ini dikemukakan sebagian pengertian budaya organisasi menurut sebagian pakar:

a. Menurut Wood, Wallace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, Osborn (2001:391), budaya organisasi merupakan sistem yang dipercayai serta nilai yang dibesarkan oleh organisasi dimana perihal itu menuntun sikap dari anggota organisasi itu sendiri.

b. Menurut Tosi, Rizzo, Carroll semacam yang dilansir oleh Munandar (2001:263), budaya organisasi merupakan cara- cara berpikir, berperasaan serta bereaksi bersumber pada pola- pola tertentu yang ada dalam organisasi ataupun yang ada pada bagian- bagian organisasi.

c. Menurut Robbins (1996:289), budaya organisasi merupakan suatu anggapan bersama yang dianut oleh anggota- anggota organisasi itu.

d. Menurut Schein (1992:12), budaya organisasi merupakan pola dasar yang diterima oleh organisasi untuk berperan serta membongkar permasalahan, membentuk karyawan yang sanggup menyesuaikan diri dengan area serta mempersatukan anggota- anggota organisasi. Untuk itu wajib diajarkan kepada anggota tercantum anggota yang baru sebagai suatu metode yang benar dalam mengkaji, berpikir serta merasakan permasalahan yang dialami.

e. Menurut Cushway serta Lodge (GE:2000), budaya organisasi ialah sistem nilai organisasi serta akan pengaruhi metode pekerjaan dilakukan serta metode para karyawan berperilaku. Bisa disimpulkan bahwa yang diartikan dengan budaya organisasi dalam riset ini merupakan sistem nilai organisasi yang dianut oleh anggota organisasi, yang setelah itu pengaruhi metode bekerja serta berperilaku dari para anggota organisasi.


Sumber- sumber Budaya Organisasi 

Menurut Tosi, Rizzo, Carrol semacam yang dilansir oleh Munandar (2001:264), budaya organisasi dipengaruhi oleh sebagian faktor, yaitu:

Pengaruh umum dari luar yang luas

Mencakup faktor- faktor yang tidak bisa dikendalikan ataupun hanya sedikit bisa dikendalikan oleh organisasi.

Pengaruh dari nilai- nilai yang ada di masyarakat

Keyakinan- keyakinan dn nilai- nilai yang dominan dari warga luas misalnya kesopansantunan serta kebersihan.

Faktor- faktor yang khusus dari organisasi

Organisasi senantiasa berhubungan dengan lingkungannya. Dalam menanggulangi baik permasalahan eksternal ataupun internal organisasi akan memperoleh penyelesaian- penyelesaian yang sukses. Keberhasilan menanggulangi bermacam permasalahan tersebut ialah dasar untuk tumbuhnya budaya organisasi.


Fungsi Budaya Organisasi

Menurut Robbins (1996:294), fungsi budaya organisasi sebagai berikut:

a. Budaya menghasilkan pembedaan yang jelas antara satu organisasi serta yang lain.

b. Budaya bawa suatu rasa bukti diri untuk anggota- anggota organisasi.

c. Budaya memudahkan munculnya komitmen pada suatu yang lebih luas daripada kepentingan diri individual seorang.

d. Budaya ialah perekat sosial yang menolong mempersatukan organisasi itu dengan membagikan standar- standar yang tepat untuk dilakukan oleh karyawan.

e. Budaya sebagai mekanisme pembentuk arti serta kendali yang memandu serta membentuk perilaku dan sikap karyawan.


Identitas Budaya Organisasi

Menurut Robbins (1996:289), ada 7 identitas budaya organisasi merupakan:

1. Inovasi serta pengambilan efek. Sepanjang mana karyawan didukung untuk menjadi inovatif serta mengambil efek.

2. Atensi terhadap perinci. Sepanjang mana karyawan diharapkan menampilkan kecermatan, analisis serta atensi terhadap perinci.

3. Orientasi hasil. Sepanjang mana manajemen memfokus pada hasil bukannya pada metode serta proses yang digunakan untuk menggapai hasil tersebut.

4. Orientasi orang. Sepanjang mana keputusan manajemen memperhitungkan dampak pada orang- orang di dalam organisasi itu.

5. Orientasi regu. Sepanjang mana aktivitas kerja diorganisasikan dekat tim- tim, ukannya orang.

6. Keagresifan. Berkaitan dengan agresivitas karyawan.

7. Kemantapan. Organisasi menekankan dipertahankannya budaya organisasi yang telah baik.

Dengan memperhitungkan organisasi itu bersumber pada 7 karakteristik ini, akan diperoleh cerminan majemuk dari budaya organisasi itu. Cerminan ini menjadi dasar untuk perasaan uraian bersama yang dipunyai para anggota mengenai organisasi itu, bagaimana urusan dituntaskan di dalamnya, serta metode para anggota berperilaku (Robbins, 1996:289).


Tipologi Budaya

Menurut Sonnenfeld dari Universitas Emory (Robbins, 1996:290- 291), ada 4 jenis budaya organisasi:

Akademi

Perusahaan suka merekrut para lulusan muda universitas, berikan mereka pelatihan istimewa, serta setelah itu mengoperasikan mereka dalam suatu fungsi yang spesial. Perusahaan lebih menggemari karyawan yang lebih teliti, cermat, serta mendetail dalam mengalami serta membongkar suatu permasalahan.

Kelab

Perusahaan lebih condong ke arah orientasi orang serta orientasi regu dimana perusahaan berikan nilai besar pada karyawan yang bisa membiasakan diri dalam sistem organisasi. Perusahaan pula menggemari karyawan yang setia serta memiliki komitmen yang besar dan mengutamakan kerja sama regu.

Regu Bisbol

Perusahaan berorientasi untuk para pengambil efek serta inovator, perusahaan pula berorientasi pada hasil yang dicapai oleh karyawan, perusahaan pula lebih menggemari karyawan yang kasar. Perusahaan cenderung untuk mencari orang- orang berbakat dari seluruh umur serta pengalaman, perusahaan pula menawarkan insentif finansial yang sangat besar serta kebebasan besar untuk mereka yang sangat berprestasi.

Benteng

Perusahaan condong untuk mempertahankan budaya yang telah baik. Menurut Sonnenfield banyak perusahaan tidak bisa dengan apik dikategorikan dalam salah satu dari 4 jenis sebab merk mempunyai suatu paduan budaya ataupun sebab perusahaan terletak dalam masa peralihan.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url